Friday, 11 August 2017

Lyfe

Takdir baik dan buruk, sehat atau sakit, sedih maupun senang, semua kehendak Allah Ta'ala.
Tugas manusia ialah menjalaninya dengan iman, berserah diri, dan berusaha agar selalu ada di jalan yang Allah ridhai.
Sabar tawakkal, apa yang terjadi, terjadilah! Jalani sebaik yang kamu bisa.
This entry was posted in

Friday, 4 August 2017

Dusun Sasak Sade Lombok

Pada tanggal 21 Februari 2017 saya posting cerita ketika saya di Lombok di sini, dan saya bilang mau cerita ketika di Sasak Sade di postingan sendiri. Nah ini dia, sekarang saya akan cerita hal-hal yang disampaikan oleh pemandu yang waktu itu saya catet di note saya hhehehe.

Pintu Masuk ke Dusun Sasak Sade
Dusun Sasak Sade ini merupakan desa adat di Lombok, luasnya sekitar 3 hektar, dan mulai dibuka untuk dikunjungi pada tahun 1975. Satu Dusun terdiri dari 150 kepala keluarga, 150 rumah, dan 700 orang penduduk. Jumlah rumah dan penduduk tidak boleh kurang atau lebih, jadi jika ada kelebihan penduduk maka harus ada yang keluar dari dusun, dan jika ada yang pergi atau meninggal, maka orang sasak yang tidak tinggal di Dusun Sade harus kembali untuk menggenapkan jumlah penduduk.
Mengisi Buku Tamu
Berugak

Di Dusun Sasak Sade kita bisa mengunjungi rumah adat Suku Sasak yang berprofesi sebagai petani, sehingga diberi nama "Bale Tani". Bale Tani memiliki lantai yang terbuat dari kombinasi antara tanah liat, batu bata, abu jerami, getah pohon, dan kotoran sapi atau kerbau. Atapnya menggunakan rumput alang-alang yang bisa tahan sampai 7 tahun, jika tebal malah bisa sampai 12 tahun, keren ya. Pada saat saya kesana, sudah ada 20 rumah yang menggunakan semen.
 
 
Selain Balai Tani, ada juga Geruga Sake 6 yang digunakan untuk pertemuan dusun, baik itu musyawarah atau ijab qabul. 

Ucapan terima kasih dalam bahasa mereka yaitu "Matur Tampi Asih" ini terdengar seperti Bahasa Jawa campur Bahasa Sunda halus banget, pas denger ini langsung jleb karena bahasanya dalem banget rasanya. Nah, pada usia 8 tahun wanita-wanita di Sade sudah diajari untuk menenun, karena setiap wanita wajib bisa dan baru diperbolehkan untuk menikah jika sudah pandai menenun. 


 Sekian cerita di Dusun Sasak Sade, terima kasih sudah membaca :)


This entry was posted in

Wednesday, 2 August 2017

Suatu Hari di Pulau Buru (Edisi Lintas Buru)



Bagi saya, every single trip is an adventure. Saya senang mengunjungi tempat baru, bertemu orang baru, dan menjadikannya memori yang akan saya simpan sepanjang hidup saya. Berhubung saya ditempatkan di tempat yang masih jarang ter-explore, jadi saya harus siapkan diri, mental, dan fisik untuk menghadapi situasi yang belum pernah saya alami sebelumnya, seperti semalaman di kapal laut, keterbatasan makanan, kesulitan air, listrik, sinyal dan lain sebagainya. Kali ini saya akan bercerita tentang perjalanan saya melewati Lintas Buru.