Wednesday, 12 December 2018

I Miss Ambon

Sore ini aku pulang terlambat, hampir magrib, seperti biasa naik ojek online andalanku, sudah lama aku tak melihat senja di langit karena seringnya pulang teng go, dan saat senja tiba aku sudah berada di dalam rumah. Melihat langit yang berwarna oranye, aku langsung teringat tempat dengan pemandangan sore yang spektakuler, Maluku. Ya, semua tempat di Maluku memiliki sunset yang indah. Pemandangan sunset merupakan salah satu berkat dari Allah yang aku nikmati setiap sore di tempat penempatan pertamaku, Ambon. Sebrang kantor kami Teluk Ambon, menghadap sunset, dan setiap sore mataharinya indah, tenggelam bersembunyi dibalik bukit, dan aku rindu.

Aku rindu bangun pagi di kamar sempit 4 x 2.5 meter ku di Mess Rijali. Mess yang nyaman penuh kehangatan dan kekeluargaan. Meskipun sempit, kamarku nyaman sekali, aku punya lemari merk olympic 2 pintu warisan dari Bang Dika yang diterima sekolah lagi di Makassar, di atas lemari ada TV 32" yang jarang aku nyalakan, hanya Ini Talkshow dan Tonight Show yang sering kutonton di malam hari, kartun saat weekend, dan acara-acara bermutu di Trans seperti MTMA dan Si Unyil. Di atas jendelaku ada AC yang selalu menyelamatkan aku dari panasnya udara di Ambon, serta ada 2 rak buku di sebelah ranjangku yang kupakai untuk menyimpan barang-barang printilan. Meskipun sempit dan space yang tersisa hanya cukup untuk solat saja, tapi aku nyaman dan bahagia.

Di Mess kami ada Oma baik hati yang membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, meskipun sudah tidak muda lagi, tapi Oma ini sangat kuat dan rajin sekali, kami memanggilnya Tante Tina. Tante Tina bertugas untuk mencuci dan menyetrika baju-baju kami penghuni mess, memasak nasi, dan urusan bersih-bersih dari depan sampai belakang rumah, semua  di hendle Tante Tina, Aku rindu Tante Tina, sehat selalu di sana Tante.

Penghuni Mess kami selalu berganti, ada yang datang, ada yang pergi, tempat cerita-cerita ku Kak Evelyn dan Alfian. Aku rindu makan masakan Kak Evelyn, dan aku rindu punya teman seperti Alfian, yang ditanya apa aja dia tau, semacam wikipedia berjalan ehehehe

Setiap pagi aku berangkat kerja satu motor dengan alfian, kami patungan, karena harga motor di Ambon bisa 2 kali lipat harga di Pulau Jawa, ini saja kami beli motor second harganya sama dengan harga motor baru di Pulau Jawa. Setiap pagi itu pula aku melewati Polda Maluku atau Hotel Swiss Bell, kadang macet sedikit di depan Polda, atau harus berhenti karena lampu merah. Anak sekolah sibuk jalan dan menyebrang menuju sekolahnya, tiap pagi ada apel di Polda sehingga para Polisi pun sibuk memarkirkan motornya dan berbaris rapi di halaman kantornya. Agak maju sedikit masuk ke Tugu Trikora, Soabali, dan Silale. Silale adalah tempat tinggalku waktu masih kost, waktu itu mess masih penuh jadi kami kost dulu. Aku sekamar dengan Mba Gisca, kami anak baru yang waktu itu tidak kebagian mess pun membuat kongsi yang kami beri nama "Berpikir Sebelum Bertindak", WA nya pun masih ada sampai sekarang, hahaha. Isinya ada Aku, Mba Gisca, Chintya, Ardhi, Udin, Hendy, Andre, Andri, Alfian. Eh, ko setengahnya udah pergi dari Maluku ya, Mba Gisca di Bangka Belitung, Chintya di Padang, Hendy di Jakarta, Andri di Jakarta. Sisa Udin, Alfian, Ardhi, dan Andre yang keempatnya aku dengar sedang daftar beasiswa juga, semoga berhasil yaaa. Meskipun sering berantem nih yaa tapi kami cukup kompak kok, hhaha kalau ada yang ulang tahun yaa kasi kue asal-asalan, biar ditraktir doang sama yang ulang tahun hhaha. Weekend mantai kita, atau makan kaepci bareng kalau ada promo, yaa kadang PH, makan ikan di depan Amplaz, makan duren di Pasar Mardika, dan nonton bioskop sama-sama di Amplaz (Ambon Plaza) yang tiketnya 15ribu dan sekarang udah gak ada katanya bioskop di Amplaz, karena sudah ada XXI di ACC (Ambon City Center).

Sesampainya di kantor, ada pos satpam, dihuni oleh satpam yang perawakannya sangar tapi ternyata baik-baik banget, takut lah para penjahat kalau mau ke kantor kami ehehe, masuk pintu depan kantor, mampir dulu ke sebelah kanan untuk absen, masuk ke Ruang APD di pintu kanan, terlihat sudah mejaku, sebelahan dengan my best Mba Chika. Sampai saat ini belum nemu yang kaya Mba Chika, She is smart, wawasannya luas, apa aja tau, kalau DL sama dia laporan tau-tau beres deh, makanya kalau dinas suka sempet main kesana-kemari, berdua doang, peremepuan, di Maluku pula hhaha. Aku rindu masa-masa itu, masa-masa ketika yang menjadi beban pikiran itu cuma nanti main kemana dan nanti makan siang apa.
Kami berdua bener-bener sering nekad pergi, ke Ora lah, ke Piliana lah, ke Osi lah, sampai di Maluku Tengah itu kami sudah punya sopir langganan yang bisa antar-antar kami main, ahaha beneran baru kenalan pas naik mobil dia aja, dan jadi langganan. Jangan salah loh yaa, orang Maluku itu baik-baik banget, dan sopan, dan ramah, pokoknya kalau belum pernah ke Maluku pasti gak bakalan tau.

Didepan meja Mba Chika ada Mas Heru, Mas Mas yang sabar dan segala bisa juga, nih blog ini aku design dibantu sama Mas Heru, kalau kalian mau liat blognya Mas heru, ada di sini, hehehe. Mas Heru sering jadi korban PMS wanita-wanita di ruangan hhaha saking sabarnya ya dia mah gitu dikesel-keselin juga sabar, hahaha. Pokoknya kalau masalah teknologi-teknologi tinggal tanya ke dia aja pasti tau deh.

Aku juga mau cerita Mba Gisca, awalnya Mba Gisca beda bidang, tapi pindah ke bidang kami, Mba Gis punya anak 1 namanya Bilal, waktu itu lagi masanya susah nyari ART, jadi Mba Gis ditemenin Ibu Mertuanya, kadang bapaknya, kadang gak ada yang nemenin, karena suaminya tugas belajar di Solo. Jadi aku kadang nginep di rumah Mba Gisca nemenin mereka. Alhamdulillah Mas Agus, suami Mba Gisca sudah lulus sekolahnya dan kembali ke Ambon, jadi aku gak nginep lagi di rumah Mba Gisca. Kalau masalah peribu-ibuan ini ahlinya, karena udah punya anak duluan jadi ditanya-tanya tentang dunia peribuan dia pasti tau, dan sekarang Bilal si Cah Lanang sudah bisa lari kesana-kemari, dulu pas aku masih suka nginep di rumahnya baru mau belajar makan alias MPASI, aaa kangen Bilal hha.

Banyaaak banget yang aku rindukan di Maluku, pantainya, suasananya, orang-orangnya, dan waktunya, masa-masa saat aku masih singel. Hahaha. Masa dimana gak perlu mikirin anak, gak perlu mikirin kalo makan ini nanti efek ke ASI dan anaknya gimana, gak perlu mikirin kalo beli ini nanti gak ada buat beli-beli perlengkapan bayi, masa-masa gak perlu mikirin biaya sewa tempat tinggal karena tinggal di Mess. Makan yaa makan aja, belanja ya belanja aja, main ya main aja, masa-masa dimana aku hanya memikirkan diri sendiri saja. Pas di Ambon itu, badan sakit dikit aja langsung pijet ke Nakamura, sekarang badan udah rontok pun yaa biarin deh hhaha. Masa-masa bebas kemana-mana, gak ada yang ngeintrogasi kemana, kapan, sama siapa, naik apa zzzz. Aku kangen aku yang dulu, i never be myself again. Life changed, and all i have to do is to accept it.

Yaa gitu deh, sekarang udah pindah ke kota besar tapi kadang feel lonely, cuma bisa chatting sama teman-teman karena gak punya temen yang akrab banget di sini, semuanya udah sibuk sama keluarga masing-masing. Gak ada temen makan siang lagi, gak ada temen yang ngajakin pergi pas weekend lagi, gak ada yang ngajakin makan kaepci promo lagi, gak ada pantai biru lagi, gak ada, I do Miss Ambon.