Monday, 28 October 2019

Susahnya Jadi Millenial (Edisi Memperingati Hari Sumpah Pemuda)

Today, 28 Oktober 2018, Hari Sumpah Pemuda, seperti biasa, upacara di kantor, mulai 7.30 teng. Upacara kali ini membuat saya agak merenung, merasa kalau anak zaman sekarang yang sering disebut generasi milenial itu tercitrakan susah dikendalikan, terlalu bebas tak terbatas, kurang sopan santun, dan individualis. Ini tidak lain dan tidak bukan disebabkan karena ada pengaruh dari kemajuan teknologi, mulai dari internet, sampai sosial media ceunah. 

Namun, anak muda yang tercitra seperti itu tidak terlepas dari pengaruh orang-orang dewasa/tua/seniornya juga loh Bapak/Ibu. Jangan selalu anak milenial ini jadi bahan bulan-bulanan, gak ngerti tata krama, gak ngerti kerja, gak ngerti apalah-apalah. "Milenial itu harus bisa segala loh, kalian kan melek teknologi, masih muda, energi masih banyak dsb" Yes we are, tapi, kesemuanya itu kalau tidak dikelola dengan baik yaa bakal jadinya kaya apa? Sedangkan anak muda yang belum tahu arah ini perlu diarahkan  oleh orang-orang yang mengarahkan ke jalan yang benar dong, kalau yang mengarahkan ke jalan yang salah, sedang anak muda ini masih labil, yaa ikut-ikut saja ke jalan yang tidak benar.

Lagi-lagi, anak-anak adalah peniru yang baik, bukan saja saat bayi, namun, setelah besar pun yaa sama saja, junior meniru senior, karena yaa namanya junior, belum tahu harus apa dan gimana, saat diarahkan ini itu yaa ikut saja, karena dikira memang seperti itulah cara kerjanya. Begitupun murid akan meniru gurunya, anak meniru orang tuanya.

Lama kelamaan salah dan benar sudah terdefinisi. Namun yaa kadang gak bisa idealis juga, apalagi ada yang pernah bilang ke saya, kalau dia terbunuh sendiri sama ke-idealisme-an. Anak muda padahal awalnya dididik untuk idealis, namun yaa dunia nyata tak seindah itu, kadang harus menyesuaikan dengan keadaan, tapi tetap harus tau dan membatasi diri sampai mana toleransi "menyesuaikan" itu diperbolehkan.

Then, anak muda selalu dituntut inovasi, namun tau sendiri lah dengan adanya inovasi itu pasti ada perubahan, sedangkan kalau ada perubahan apalagi perubahan yang gak enak kan yang pertama dan paling kenceng protes siapa coba? Belum lagi kalau hasil inovasinya disepelekan, karena hasil karya anak muda yang amatir gak berpengalaman, beuh gara-gara anak muda nih blah blah blah. Layar hp berubah aja ribut, apalagi yang lain-lain. Sedangkan milenial mudah sekali menerima perubahan, aplikasi aja sering berubah-ubah karena di update kan, sudah jadi makanan sehari-hari.

So, dear Bapak/Ibu yang sudah tidak milenial, please bring us (who called milenial) to the straigh way, berikan contoh yang baik, karena kalau ingin punya anak soleh yang pertama harus soleh adalah orang tua nya, kalau ingin murid rajin yang harus rajin duluan adalah gurunya, kalau mau punya junior yang cakap dalam pekerjaan maka yang harus cakap duluan adalah seniornya, berikan contoh dan bimbing sampai cakap juga, turunkan ilmunya, semuanya, jangan setengah-setengah, jangan takut kehabisan lahan pekerjaan, karena yang akan pensiun duluan adalah generasi yang bukan milenial, dan masa yang akan datang menjadi kewajiban generasi milenial. Kalau ilmunya diturunkan setengah-setengah atau tidak mau menurunkan ilmu sama sekali maka ilmunya suatu hari akan hilang. 

Milenial yang dicitrakan tidak baik dimata generasi bukan milenial bukan semata-mata tanggung jawab milenial saja, tapi merupakan tanggung jawab generasi bukan milenial juga. Kalau tata krama kurang baik, diberi tahu, bukan malah dibully atau ngedumel sendiri. Kalau dalam pekerjaan belum baik, diajarkan. Iya sih ada sekolah, ada diklat, ada les, tapi belajar di kelas dan di lapangan itu beda, durasi belajar di kelas itu sangat singkat, sehingga yang lebih tua yang sudah lebih lama hidup di dunia ini, yang sudah berpengalaman, haruslah memberitahu yang masih muda. Menjadi anak muda di jaman sekarang pasti tantangannya berbeda dengan menjadi anak muda di masa lalu, kalau Bapak/Ibu merasa dulu masa mudanya baik, lempeng, pasti itu tidak terlepas dari orang-orang yang sudah tua lebih dahulu di zaman itu, jadi sekarang berlaku juga seperti itu. Anak-anak menjadi seperti ini sekarang, sangat mungkin ada pengaruh dari Bapak/Ibu, entah mengabaikan, entah belum bisa membimbing, mari sama-sama introspeksi diri.

Sooo, selamat Hari Sumpah Pemuda, semoga generasi muda lebih bersopan santun, mampu bekerja, peduli sesama, penuh inovasi, dan mau memperbaiki diri. Mari mencoba dan belajar semua hal, coba aja dulu, habiskan kesalahan-kesalahan di masa muda, agar di masa tua kita sudah tau yang benar dan yang salah, dan meminimalisir melakukan kesalahan yang sama. Semoga generasi bukan milenial mau membimbing generasi muda, mau introspeksi, sadar akan pentingnya menurunkan ilmu, sadar akan pentingnya regenerasi, mau membuka diri dan menyadari kalau jaman dulu beda dengan jaman sekarang, bersedia menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman, serta tidak sedikit-sedikit menyalahkan generasi muda. 
Salam Anak Muda! Selamat Hari Sumpah Pemuda!
This entry was posted in

Monday, 21 October 2019

Kupat Tahu Alun-Alun dan Sirop Bojong Legend di Tasikmalaya

Halooo, akhirnya mau cerita lagi tentang makanan/kuliner di Tasikmalaya. Euforianya beda sih ya pas udah pindah ke Jawa Barat. Kan jadi sering pulang ke Tasik, nah mau kuliner itu jadi males, malah suka bingung makan apa yang dipengenin kalau lagi di Tasik. Beda banget sama pas masih di Ambon, sebelum berangkat pulang dari Ambon aja udah dibikin list makanan apa aja yang harus dimakan di Tasik ahaa, padahal aku bukan tipe-tipe anak kuliner, jadi makan yaa makan aja yang ada. Mungkin karena itulah, euforia pengen makan makanan apa pas di Tasik jadi gak ada, bebas, gimana bapak suami aja. Tapi kalau dia bingung juga yaa pilih yang saya mau juga kadang gitu lah. 
Nah kemarin pas di Tasik, makan kupat tahu yang paling sering dimampirin kalau lagi di Tasik, karena enak, murah, dan bikinnya cepet. Tidak lain dan tidak bukan ialah "Kupat Tahu Alun-Alun". Gak tau juga yaa ni dia ada namanya sendiri apa engga, namun, karena lokasinya ada di alun-alun ya aku sebut aja Kupat Tahu Alun-Alun. 
Ini dia penampakannya:
Ooo ada namanya Kupat Tahu RR Ceunah
Nah, letaknya di jalan antara alun-alun dan pendopo
Ini Pendopo, Lagi Renovasi
Ini Alun-Alun

Ini Gerobaknya si Emang, Dibantu sama Asistennya
 Duduknya di kursi plastik berjejeran, mau duduk-duduk di dalam alun-alun juga boleh

Antri Tapi Gak Lama Kok
Makanannyaaa, simpel, sesimple kupat atau nasi dikasih tahu, kerupuk, toge, dan dibumbuin. Tapi enak banget bray. Harganya 8ribu sajah

Pesenan Bapak Suami, Nasi Tahu
Pesananku, Kupat Tahu
Ngiler banget pas ngepost ini, pengen yaa hahaha

Setelah Diaduk Nih
Tim Kupat Diaduk Hahaha
Minumnya teh hangat, harus bersyukur karena gratis, di daerah lain ada juga teh hangat bayar :D

Minum Selagi Hangat Sis
 Soooo Yummyyyyyy..... Rasa bumbunya ituloh, enak banget, gurih manis karena ada kecap nya juga, terus tahunya panas digoreng dadakan, meskipun kupatnya dingin tapi jadi anget kebawa sama panasnya tahu. Kerupuknya juga bikin sensasi kriuk-kriuk, ditambah segernya toge, dimakan di alun-alun sambil menikmati suasana Tasik, pas bayar juga gak bikin kantong nangis, masih terjangkau, juara banget lah kupat ini

Lanjuttt ke destinasi yang kedua. Nah kalau ini ide suami, karena katanya mama suami (alm) dulu sering ngajakin ke sini, es bojong yang legend banget, yaituuu "Es Bojong Ibu Momoh".
Selain es bojong, ada siomay juga, tapi karena ke sana masih pagi, jadi siomay nya belum ready. 
Ini dia dokumentasinya:
Es Bojong Ibu Momoh
Daftar Menu
Masih Sepi
Rasa sirop bojongnya legit banget, manis tapi gak enek, yang pasti seger. Penikmat es bojong silahkan cobain minum es bojong ibu momoh ini.

Baik, sekian dulu cerita makanan kali ini, trims sudah membaca~