Saturday, 6 February 2021

Cerita Kelahiran Adik Raihan

Pagi dini hari, sekitar jam 4 pagi, ibu dan bapak sudah bangun, dan chit chat entah tentang apa, lupa, yang pasti kami 90% nya sibuk dengan hp masing-masing. Tiba-tiba terasa ada letupan di dalam perut ibu, dalam hati "wah jangan-jangan pecah ketuban", segera ibu ke kamar mandi, dan benar saja air ketuban mengalir deras. Karena sudah pengalaman, jadi ibu sudah yakin saja itu air ketuban.
 
Bapak yang sigap waktu itu segera membawa box bersalin masuk ke mobil dan menyalakan mobil, ibu ditinggal begitu saja di kamar mandi wkwkwk dasar bapak. Sambil sedikit kesal, ibu segera minta bapak membawakan pakaian ganti dan pembalut bersalin ke kamar mandi, ibu tidak bisa berjalan ke kamar karena air ketuban terus keluar. 
 
Setelah berganti pakaian, ibu dan bapak segera meluncur ke klinik, tanpa pamitan pada ayah dan mamah (orangtua ibu) karena mereka sedang sakit, ibu takut menganggu istirahat, biar nanti saja berkabar ke mereka.
 
Sampai di klinik, cek pembukaan, belum ada, fyuh, sama persis seperti lahiran tetehnya, usia kehamilan 40 minggu, pecah ketuban dini tanpa pembukaan. Ibu dan Bapak pun istirahat di kamar klinik (kliniknya ada rawat inap nya juga), sambil observasi dan menunggu pembukaan.
 
Pagi-pagi infus dipasang, 2 kali gagal, darah mengalir deras dari tangan kiri ibu, tapi tak apa, akhirnya percobaan ketiga di tangan kanan berhasil, ibu diberi antibiotik supaya tidak terjadi infeksi akibat pecah ketuban dini kata dokter. Bidan jaga pun mengobservasi ibu tiap 3 jam, cek kontraksi dan pembukaan. Kontraksi tak banyak, pembukaan pun nihil. Alhasil setelah di cek dokter di sore hari, diputuskanlah untuk induksi. Again, sama persis seperti saat lahiran Teteh Radeya, hheuehu. 
 
Ba'da magrib, disuntikan induksi ke infus, ada obat yang diminum juga. Alhamdulillah tak lama pembukaan 4, namun saat dicek detak jantung adik di dalam rahim distress/tidak normal, efek dari induksi katanya, meskipun sudah dibantu dengan oksigen (ibu dipasangi selang oksigen), tetap saja jantung adik berdetak tidak normal. Setelah bidan konsultasi ke dokter, dokter memberri opsi untuk SC, dirujuklah ibu ke Rumah Sakit, karena di klinik tidak ada peralatan untuk SC meskipun dokter yang menangani tetap sama (dokternya praktek di klinik dan di RS tersebut).
 
Sesampai di Rumah Sakit, masuk IGD cek pembukaan sudah pembukaan 5, ibu masih memakai infusan, lalu dipasangi alat pengukur detak jantung bayi, dipasang selang oksigen, diambil darah untuk cek covid, dan ditanya-tanya segala macam pertanyaan yang malas sekali ibu jawab. Yaa keadaan sedang mules, sudah pembukaan 5 ditanya tanggal lahir, alamat dll disuruh tanda tangan pula, rasanya itu... Coba rasain sendiri 😂
 
Sementara ibu dicek ini itu, bapak ke loket pendaftaran, yaampun lama sekali daftarnya, sampai ibu teriak-teriak memanggil bapak, karena sama sekali tidak ada yang menemani ibu, ditambah ibu kehausan, minta bidan membawakan minum tak dibawakan juga, yaa ngambil dimana mungkin bingung juga namanya IGD, dan bidannya sendiri sedang sibuk mengurusi ini itunya ibu (cek darah, kelengkapan administrasi dll). Sampai ibu mertua datang, langsung ibu minta air minum, dibawakanlah air minum yang rasanya seperti oasis di gurun pasir, ibu mertua pun stay menemani ibu yang sudah mulai tak tahan ingin mengejan. 
 
Tak lama bapak datang, ditanya bidan, "Sudah booking kamar?", kata bapak, "Belum", yaampuuun daritadi lama sekali daftar belum booking kamar hiks jadi bapak kembali lagi entah ke mana untuk booking kamar. Kira-kira sekitar 30-45 menit ibu di IGD, rasanya lama sekali, sampai rasa ingin mengejan pun sudah tak tertahankan, namun bidan bilang tahan dulu, meskipun pembukaan terus maju namun skenario SC masih berlaku. 
 
Kemudian ibu bicara pada adik, "Dik, ibu sudah mules kaya gini masa harus operasi, yuk keluar yuk dik". Karena ibu terus meminta ingin mengejan, bidan mengecek pembukaan, daaan pembukaan lengkap, alhamdulillaah. Meskipun hasil tes covid belum keluar, karena pembukaan sudah lengkap akhirnya keluar juga dari IGD, masa lahiran di IGD hiks, qodarullooh menunggu lift terbuka pun lama sekali, sret terasa sekali kepala adik sudah keluar ketika menunggu lift terbuka, bidan kemudian menelpon dokter, "Kepala sudah keluar dok, jadi ke ruang bersalin atau ruang operasi dok?" Dokter jawab, "Ke ruang bersalin" (belakangan ibu tahu dari teman yang bidan, jika kepala sudah keluar maka sulit untuk SC), yaampuuun ibu yang sedah lemas menahan untuk mengejan dan menahan nyeri langsung tersenyum happy karena tak jadi operasi, "Alhamdulillaah, Good Job Adik". 
 
Setelah lift terbuka, tadinya tujuan kami adalah ruang operasi menjadi ruang bersalin isolasi (karena hasil tes covid ibu belum keluar), nah masuk ruang bersalin, ruangan masih kosong, lampu baru dinyalakan, peralatan baru ditata, dokter masih OTW dari ruang operasi ke ruang bersalin, namun adik sudah tak tahan ingin keluar, bidan menelepon dokter meminta izin adik dilahirkan karena sudah tidak bisa ditahan lagi, akhirnya yap, meskipun dokter belum sampai ke ruang bersalin, bapak masih entah dimana, dan tanpa ibu mengejan pun adik lahir.
 
Alhamdulillaah
 
Adik lahir tak langsung menangis, sementara saya ditinggal di di ruang bersalin dan masih memakai kasur IGD (karena tak sempat pindah ke kasur bersalin), bidan melakukan RJP ke adik, alhamdulillaah adik menangis, dan dokter pun sampai. Lanjut ibu melahirkan plasenta, dibersihkan darahnya, dipasang IUD dan dijahit. Berapa jahitan? Bwanyaaak 😂
 
Tak lama adik dipertemukan dengan ibu, IMD, dan ibu pindah ke kamar, sementara adik dibawa ke kamar bayi terlebih dahulu sebelum nanti room in dengan ibu. Alhamdulillaah hasil tes covid non reaktif jadi bisa menginap di kamar reguler bukan yang isolasi.
 
Sesampainya di kamar, ibu lapar, waktu itu ibu ditemani bapak dan ceu nyai (paraji dari awilega), bapak pun sudah kelaparan, Nasi Goreng Jaka depan RS to the rescue, nikmat banget setelah apa yang terjadi hhi, dan tak lama adik pun diantar ke kamar. Alhamdulillah ASI sudah lancar keluar sejak saat itu, jadi ibu PD sekali. Malam pertama bersama adik, dihiasi dengan nen 3 jam sekali dan adik poop 3 kali, indahnya malam pertama kami hehe
 
Keesokan harinya, alhamdulillah ibu sudah bisa buang air kecil, adik tak ada keluhan apapun, HB ibu normal, bisa pulang deh. alhamdulillaah.
 
Hikmah yang bisa dipetik, baik menurut kita bukan berarti baik menurut Allah, buruk menurut kita bukan berarti buruk menurut Allah. Saat menunggu lama di IGD yang menurut ibu buruk, ternyata menjadi jalan untuk menunggu adik bisa mengeluarkan kepalanya melalui jalan lahir, sehingga tidak jadi SC, kalau saja waktu itu prosesnya cepat di IGD, mungkin adik tak sempat keluar dari jalan lahir dan malah jadi operasi, masyaallah qodarullooh, Kuasa Allah membuat proses di IGD lama sekali sehingga takdir lahiran adik bisa normal pada akhirnya, alhamdulillah. 
 
Itulah dia cerita kelahiran adik yang diberi nama Raihan Ahmad Harsa, Bunga Surga yang memiliki sifat dan karakter seperti Nabi SAW, orang yang bahagia serta membawa kebahagiaan. Semoga sehat selalu, soleh, pinter, bageur, sehat, kuat, seueur nu nyaaheun, gampil rizkina seueur halal dan berkah Aamiiin

Diary Kehamilan Adik Bayi Trimester 3

Hamil adik bayi trimester 3 ini rasanya payah banget-banget. Cape, lelah, sakit kaki, engap, gak bisa tidur, yaa rasanya lebih heboh daripada pas hamil tetehnya ahahaha.

Meskipun pandemi belum mereda, penugasan tetap jalan, alhamdulillah dinas yang agak jauhnya ke wilayah rumah orang tua jadi gak perlu menginap di hotel. Harus strooong pokoknya kita ya dik, encok, engap, sakit badan, gak bisa tidur, dan masih on kerja itu masyaallah rasanya, tapi alhamdulillah sehat dan dijalani, terlewati juga hehehe. Semangat para bumil yang bekerja!

Memasuki hamil minggu ke 37 akupun mulai cuti, karena rasanya sudah berat banget, engap banget, cape banget, sakit punggung, sakit pinggang apalagi kalau duduk terus, nyerah deh. 

Memang rencana lahiran di Tasik, jadi setelah cuti diajukan, langsung pulang ke Tasik. Hari-hari di Tasik diisi dengan hunting dokter dan tempat bersalin. Setelah survei ke beberapa tempat, telpon sana-sini, tanya-tanya teman dsb, akhirnya tempat yang cocok dengan kriteria yang diinginkan ialaaaah Klinik Mutiara Bunda.

Apa sajakah kriterianya? Ini dia:

1. Ada praktek dokter kandungannya, karena waktu itu adik kelilit tali pusat, jadi rada-rada parno aku tuh.

2. Dokter spesialis kandungan harus yang praktek juga di RS, karena kliniknya gak bisa melayani tindakan SC meskipun ada dokter disitu, jadi kalau terjadi hal darurat bisa dirujuk ke RS tempat dokter nya praktek juga.

3. Tadinya ingin sekali memanfaatkan BPJS yang setiap bulan selalu dibayar itu, namun apa mau dikata, gak kepake lagi, jadi kalau pakai jasa dokter spesialis langsung di sini tak bisa pakai BPJS, karena harus ada rujukan dari Faskes yasudah heheu, tapi jika kalian mau pakai layanan bersalin oleh bidan, bisa dipakai BPJS nya di sini, namun tak semuanya dicover, ujung-ujungnya tetap bayar sih, tapi lumayan ada xxx.ratus ribu rupiah yang ditanggung BPJS.

4. Tempat menginapnya tidak terlalu rame dan homey, asli homey banget, dan sepi, pengantar boleh masuk, ruangannya juga semi outdoor gitu jadi sirkulasi udara bagus gak engap.

5. Biaya on budget, karena adik ini segala irit gak kaya pas hamil dan lahiran teteh hehe (udah 2 sis maklum).

6. Karena sedang pandemi, sebisa mungkin aku ingin menghindari RS, karena di sana kan banyak pasien, jadi pengen mengurangi kontak sama banyak orang aja gitu deh.

Baiklah akhirnya diputuskan rencana untuk lahiran di Mutiara Bunda,Bismillaah...

Selain hunting dokter dan tempat melahirkan, hari-hari setelah cuti pun diisi dengan main Getrich sama De Gita (jadul banget ya haha), nonton drakor, beresin file Leptop dan HP, belanja baju dan perlengkapan new born yang gak banyak (karena lungsuran teteh banyak yang masih bisa kepakai, kecuali baju yaa aku beli rada banyak), jalan kaki, dan kontrol ke dokter. 

Kontrol ke  dokter yang prakteknya di Mutiara Bunda, buka praktek jam 12.30 sd 15.00, dokternya sering tepat waktu, antri gak lama, dan pasien yang periksa di sini gak terlalu banyak, bahagia aku tuh. Selain di Mutiara Bunda, beliau juga praktek di RS TMC dan Klinik Amartha. 

Alhamdulillah tiap kontrol, adik sehat, cuman kegendutan, jadi ibu stop makan es krim dan mengurangi yang manis-manis, lilitan masih ada, kata dokter jangan panik, namun harus waspada, meskipun cuma 1 lilitan. Tiap kontrol tuh sering ditanya, "Belum lahiran bu?" ahaha karena menjelang minggu ke 40 adik masih betah di perut ibu, waktu itu kontrol ke dokter sudah 1 minggu sekali.

Ya gitu deh, setelah masuk minggu ke 40, jengjeng, lahiran... Cerita lahirannya ada di postingan setelah ini ya, mangga yang mau baca mampir ke postingan selanjutnya. Terima kasih sudah membaca~~~