Saturday, 6 February 2021

Diary Kehamilan Adik Bayi Trimester 3

Hamil adik bayi trimester 3 ini rasanya payah banget-banget. Cape, lelah, sakit kaki, engap, gak bisa tidur, yaa rasanya lebih heboh daripada pas hamil tetehnya ahahaha.

Meskipun pandemi belum mereda, penugasan tetap jalan, alhamdulillah dinas yang agak jauhnya ke wilayah rumah orang tua jadi gak perlu menginap di hotel. Harus strooong pokoknya kita ya dik, encok, engap, sakit badan, gak bisa tidur, dan masih on kerja itu masyaallah rasanya, tapi alhamdulillah sehat dan dijalani, terlewati juga hehehe. Semangat para bumil yang bekerja!

Memasuki hamil minggu ke 37 akupun mulai cuti, karena rasanya sudah berat banget, engap banget, cape banget, sakit punggung, sakit pinggang apalagi kalau duduk terus, nyerah deh. 

Memang rencana lahiran di Tasik, jadi setelah cuti diajukan, langsung pulang ke Tasik. Hari-hari di Tasik diisi dengan hunting dokter dan tempat bersalin. Setelah survei ke beberapa tempat, telpon sana-sini, tanya-tanya teman dsb, akhirnya tempat yang cocok dengan kriteria yang diinginkan ialaaaah Klinik Mutiara Bunda.

Apa sajakah kriterianya? Ini dia:

1. Ada praktek dokter kandungannya, karena waktu itu adik kelilit tali pusat, jadi rada-rada parno aku tuh.

2. Dokter spesialis kandungan harus yang praktek juga di RS, karena kliniknya gak bisa melayani tindakan SC meskipun ada dokter disitu, jadi kalau terjadi hal darurat bisa dirujuk ke RS tempat dokter nya praktek juga.

3. Tadinya ingin sekali memanfaatkan BPJS yang setiap bulan selalu dibayar itu, namun apa mau dikata, gak kepake lagi, jadi kalau pakai jasa dokter spesialis langsung di sini tak bisa pakai BPJS, karena harus ada rujukan dari Faskes yasudah heheu, tapi jika kalian mau pakai layanan bersalin oleh bidan, bisa dipakai BPJS nya di sini, namun tak semuanya dicover, ujung-ujungnya tetap bayar sih, tapi lumayan ada xxx.ratus ribu rupiah yang ditanggung BPJS.

4. Tempat menginapnya tidak terlalu rame dan homey, asli homey banget, dan sepi, pengantar boleh masuk, ruangannya juga semi outdoor gitu jadi sirkulasi udara bagus gak engap.

5. Biaya on budget, karena adik ini segala irit gak kaya pas hamil dan lahiran teteh hehe (udah 2 sis maklum).

6. Karena sedang pandemi, sebisa mungkin aku ingin menghindari RS, karena di sana kan banyak pasien, jadi pengen mengurangi kontak sama banyak orang aja gitu deh.

Baiklah akhirnya diputuskan rencana untuk lahiran di Mutiara Bunda,Bismillaah...

Selain hunting dokter dan tempat melahirkan, hari-hari setelah cuti pun diisi dengan main Getrich sama De Gita (jadul banget ya haha), nonton drakor, beresin file Leptop dan HP, belanja baju dan perlengkapan new born yang gak banyak (karena lungsuran teteh banyak yang masih bisa kepakai, kecuali baju yaa aku beli rada banyak), jalan kaki, dan kontrol ke dokter. 

Kontrol ke  dokter yang prakteknya di Mutiara Bunda, buka praktek jam 12.30 sd 15.00, dokternya sering tepat waktu, antri gak lama, dan pasien yang periksa di sini gak terlalu banyak, bahagia aku tuh. Selain di Mutiara Bunda, beliau juga praktek di RS TMC dan Klinik Amartha. 

Alhamdulillah tiap kontrol, adik sehat, cuman kegendutan, jadi ibu stop makan es krim dan mengurangi yang manis-manis, lilitan masih ada, kata dokter jangan panik, namun harus waspada, meskipun cuma 1 lilitan. Tiap kontrol tuh sering ditanya, "Belum lahiran bu?" ahaha karena menjelang minggu ke 40 adik masih betah di perut ibu, waktu itu kontrol ke dokter sudah 1 minggu sekali.

Ya gitu deh, setelah masuk minggu ke 40, jengjeng, lahiran... Cerita lahirannya ada di postingan setelah ini ya, mangga yang mau baca mampir ke postingan selanjutnya. Terima kasih sudah membaca~~~

0 comments:

Post a comment